Selasa, 02 Oktober 2018

cerita romansaku di kota jogja


Yogyakarta memiliki moto yang berbunyi “Yogyakarta berhati nyaman”. Ternyata itu bukan hanya sekedar moto saja,  provinsi yang memiliki 5 kabupaten ini sungguh merupakan tempat yang begitu nyaman. Selain keramahan penduduk dan lokasi yang strategis, Yogyakarta memiliki banyak tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Salah satu tempat menarik itu adalah Alun-Alun.Berbicara tentang Alun-Alun, yang pertama kali terbayang tentang Alun-Alun yang ada di Yogyakarta adalah Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Kidul, yang letaknya ada di pusat Kota Yogyakarta. Namun perlu diketahui, Alun-Alun yang menarik di Provinsi Yogyakarta bukan hanya dua Alun-Alun itu saja.

Di Bantul, tepatnya 17,6 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta terdapat sebuah Alun-Alun yang tak kalah menarik. Alun-Alun yang letaknya sekitar 100 meter dari Pasar Bantul itu bernama Alun-Alun Paseban. Paseban merupakan nama sebuah lapangan yang terletak di depan kompleks Pendopo Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Saat ini Paseban menjadi pusat keramaian Kota Bantul. Paseban juga menjadi pusat perekonomian masyarakat setempat, terutama pada sore hingga malam hari.
Terdapat sekitar 60 penjual yang menjajakan dagangannya di sepanjang Paseban.

Bukan sekedar itu saja, di sana juga terdapat aneka hiburan bagi anak-anak. Tepat di sisi utara yang berseberangan langsung dengan Kantor Kabupaten, terdapat banyak penjaja yang menawarkan jasa sewa mainan anak-anak seperti sepeda pijak, mobil-mobilan baterai, kereta mini, pemancingan mini yang kesemuanya itu ditunjukkan untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun. Oleh karena itu, banyak orangtua yang membawa anak-anak mereka untuk sekedar bermain dan menghabiskan waktu di sana. Sama halnya dengan penjaja mainan anak-anak, di sana juga banyak pedagang makanan yang mulai menggelar dagangannya sejak sore hingga malam hari.

Wisatawan dapat menemukan banyak tempat penjual makanan seperti angkringan, lesehan bebakaran, warung susu murni, siomay, mi ayam, hingga wedang ronde. Di tempat itu terdapat dua pohon beringin yang serupa dengan Alun-Alun Kota Yogyakarta. Selain itu, di dekat Alun-Alun Paseban juga terdapat Masjid Jamasba sebagai tempat beribadah bagi orang muslim yang terletak tepat di barat Alun-Alun. Sebagi informasi tambahan, masjid ini tidak pernah sepi. Tiap jum’at dan sabtu malam, serambi Masjid Jamasba selalu ramai dengan bapak-bapak yang duduk bersila sembari membaca Al-Qur’an.

Begitu pula di sisi barat masjid ini yang dipenuhi ibu-ibu yang juga sedang melakukan hal serupa. Bagi orang dewasa yang juga ingin menikmati indahnya Alun-Alun Paseban pada malam hari, juga bisa menyewa mobil kayu bentuknya serupa dengan mobil kayu sewaan yang ada di Alun-Alun Kidul Yogyakarta.Suasana lampu-lampu hias warna-warni yang menyala dalam gelap malam membuat suasana di sana terasa begitu indah, romantis, nyaman dan begitu memikat. Di sana juga merupakan tempat muda-mudi untuk menghabiskan malam sekedar hanya menikmati wedang ronde atau jagung bakar.

Terlebih lahi pada malam minggu. Alun-Alun yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Bantul, Yogyakarta itu memiliki sejarah kecil yang unik akan namanya. Menurut kabar, nama Paseban sendiri berawal dari kata bahasa Jawa Pe Sebo An yang memiliki arti berkumpul. Walaupun  tempat itu berada persis di tengah kota Bantul, suasana yang tercipta begitu nyaman, ramah dan menyenangkan. Selain itu kuliner di sana terbilang cukup murah begitupula tempat parkir yang aman dan mudah ditemukan.Meskipun tidak sepopuler Alun-Alun Utara maupun Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Alun-Alun Paseban tetap menjadi magnet tersendiri yang mampu menyedot perhatian warga setempat.

Alun-Alun ini juga sempat viral ketika menjadi tempat diselenggarakannya acara akbar salah satu stasiun televisi swasta Indonesia beberapa tahun silam. Acara yang mengusung tema pemutaran film box office Indonesia itu diselenggarakan pada tanggal 13 Agustus tahun 2016 dan dimulai pada pukul empat sore hingga sebelas malam. Selain pemutaran film, terdapat acara-acara lain yang memeriahkan Alun-Alun Paseban pada waktu itu seperti pemutaran film pendek ISFF, hiburan organ tunggal, permainan hingga pembagian dooprize.

Doorprize yang dibagikan begitu beragam seperti kompor, kipas angin, handphone hingga uang tunai bernilai jutaan rupiah. Sementara itu film box office yang diputar dalam acara tersebut adalah film Comic 8 Casing Kings Part 1 dan Gangster. Sedangkan film pendek yang diputar adalah film berjudul Njuk Piye. Acara tersebut mampu membuat warga setempat berbondong-bondong pergi ke Alun-Alun Paseban dan membuat lokasi begitu meriah.Untuk sampai di Alun-Alun Paseban bukanlah hal yang sulit.

Dengan menaiki bus umum, wisatawan dapat singgah ke Alun-Alun Paseban dimulai dari pusat Kota Yogyakarta. Berangkat dari Halte Trans Jogja Malioboro 3, wisatawan dapat menggunakan transportasi bus Trans Jogja jalur 3A.Selanjutnya wisatawan berkendara hingga Halte Kolonel Sugiono 1 (Pujokesuman). Berikutnya wisatawan dapat turun dari halte dan berjalan menuju Jalan Kolonel Sugiono 30 B yang jaraknya kurang lebih 310 meter dari halte. Kemudian wisatawan menaiki bus umum Jogja-Parangtritis dan berkendara menuju Jalan Parangtritis 11. Setelah itu wisatawan bisa berjalan kaki menuju Alun-Alun Paseban.

Waktu tempuh perjalanan menaiki bus sekitar satu jam lebih. Namun untuk menaiki motor, wisatawan dapat sampai ke Alun-Alun Paseban kurang lebih hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit saja. Alun-Alun Paseban seakan berhasil menciptakan keriuhan tersendiri, membuat suasana malam tidak sepi. Untuk sekedar berekreasi bersama keluarga ataupun hangout bersama teman-teman, Alun-Alun Paseban menjadi tempat rujukan pertama wisata malam di Bantul. Banyak warga yang melepas penat seharian bekerja atau juga berakhir pekan di sana bersama keluarga.

Sebuah perjalanan pulang kampung


Alunan instrumen Für Elise menemani perjalananku ke salah satu objek wisata di Jogja. Sejak lama aku menyukai instrumen ciptaan Ludwig van Beethoven ini. Ketika aku mendengarnya, aku merasa seakan-akan berada di tengah lantai dansa, menjadi sorotan lampu terang di antara kegelapan. Kemudian meliuk-liuk, menjadi tontonan ratusan pasang mata yang tidak dapat ku lihat balik. Bagiku instrumen ini begitu indah, membius dan penuh misteri.Namaku Ika dan merupakan salah satu siswa SMA Widya Yahya, sebuah sekolah yang ada di ujung selatan Sumatera. Saat ini aku dan teman-teman sedang melakukan study tour ke Jogja.

Setelah mengunjungi Candi Borobudur, agenda lain hari ini adalah mengunjungi sebuah objek wisata sejarah yang terletak di ujung Malioboro. Objek wisata sejarah itu adalah Benteng Vredeburg. Jarum jam tangan bergelinding tepat ke angka tiga ketika kami serombongan sampai di tempat itu. Aku melepas headset dan ikut keluar dari bus. Bersama Rani, aku berjalan mengikuti guru pendamping serta teman-temanku lainnya, yang sama – sama  mengenakan seragam sekolah. Ini adalah kali pertama ku saksikan secara langsung keelokan bangunan peninggalan Belanda satu ini. Bangunan ini dikelilingi parit yang cukup dalam.

Di mulut benteng juga terdapat sebuah jembatan penghubung, yang konon katanya dulu merupakan jembatan gantung. Beberapa teman-temanku asyik mengabadikan momen di depan bangunan bertuliskan Vredeburg. Sementara yang lain antri memasuki benteng. Sejenak kemudian aku merasakan nyeri kepala yang sangat. Kepalaku berdenyut-denyut. Rani menyadari perubahanku. Air mukanya was-was. Rani adalah sahabatku sejak kecil dan dia tahu kenapa aku bisa begini tiap berada di tempat baru. Aku mulai merasa tidak tenang. “Ka, kamu enggak apa-apa kan ?”, tanyanya.Aku mengelap keringat yang mengembun di dahi. “Aku harap”“Kalau kamu enggak mau masuk ke dalam, aku temenin deh di sini”, ujarnya. Aku menggeleng. “Mungkin mereka cuma mau menyapaku aja, Ran”

Rani mengangguk. Kami berjalan beriringan, mengikuti anak-anak lain memasuki benteng. Kata ibuku, aku adalah anak istimewa. Aku adalah anak nila yang biasa orang tafsirkan sebagai anak indigo. Tetapi bagi sebagian orang aku adalah anak yang aneh. Seringkali aku melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lainnya dan bahkan aku biasa berinteraksi dengan mereka. Di sekolah aku sering bicara dengan Kak Galang. Dia adalah siswa SMA Widya Yahya yang meninggal karena kecelakaan, tepat sehari sebelum ia dinobatkan sebagai juara olimpiade komputer tingkat SMA. Jujur, aku jarang sekali mempunyai teman dari dunia nyata dan justru lebih banyak mempunyai teman dari dunia lain.

Teman-teman sekolahku merasa ngeri untuk berteman denganku. Mereka melabeliku sebagai anak yang aneh, anak yang abnormal dan anak yang eksentrik. Selama ini yang setia berteman denganku hanya Rani. Meski seringkali menghadapi hal-hal di luar nalar manusia normal, Rani tetap mau berteman akrab denganku. Kadang aku merasa kasihan padanya yang ikut terseret momen – momen aneh ketika ada di dekatku. Dulu, ketika kami berdua main ke suatu tempat, aku melihat dia terus diikuti oleh sosok tak kasat mata dan itu membuatnya sampai jatuh sakit. Beruntung ia bisa disembuhkan oleh kerabatnya yang memang paham akan hal – hal semacam itu. Sejak saat itu Rani dibentengi oleh kerabatnya dan yang bisa ku lihat, tubuh Rani selalu diliputi cahaya biru.

Jika orang mengamati bola mataku lekat-lekat, maka ia akan menemukan ukuran pupil mataku yang jauh lebih besar dari orang normal lainnya. Seakan-akan hanya memiliki ruang putih yang sempit. Aku memiliki ujung telinga yang sedikit runcing dan itu berbeda dari orang lainnya. Ya, aku mungkin memang cukup aneh bagi mereka tetapi aku yakin bahwa ini bukanlah aib. Aku adalah anak yang istimewa. Tidak semua orang bisa sepertiku. Ketika memasuki bagian dalam benteng, tepat berada di dekat patung pejuang Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, aku mulai merasakan banyak pasang mata yang menyaksikan kedatangan kami serombongan.

Mereka, pasang mata yang tidak terlihat secara kasat mata. Sayup-sayup ku dengar rintihan dan jeritan. Aku menelisik ke sekeliling, melihat yang lain terlihat biasa saja dan asyik dengan keseruan mereka. Aku yakin tidak ada selain aku yang bisa mendengarnya. Semakin aku memasuki benteng, sejuta suara seakan menelisik masuk menembus lubang telingaku. Mereka mengeluh, mengerang dan meratap. Tetapi pendengaranku jauh lebih banyak menangkap suara mereka dalam bahasa yang tidak ku kenal.“Ka, kamu serius enggak apa-apa ?”, selidik Rani ketika menyadari aku terus-terusan bersikap ganjil.

Iya, Ran. Aku enggak apa-apa kok”, ujarku lagi. “Enggak usah bohong deh. Aku kenal kamu udah lama”, ia berada di depanku, mengerutkan dahi seolah memaksaku untuk jujur. “Hm…aku cuma denger suara-suara aja”“Suara-suara gimana ?”, ia menyilangkan tangan di depan dada, nampak seperti seorang bos yang sedang memarahi anak buahnya. “Suara rintihan, suara ketakutan, suara kesedihan…”, ujarku seraya masih mendengarkan suara-suara itu. Kemudian bergidik, merinding. “Kalau begitu kita keluar aja”, ia menarik pergelangan tanganku dan hendak membawaku keluar. Seketika aku menepisnya. “Enggak usah, Ran. Aku enggak apa-apa. Serius ! Justru aku malah penasaran sama apa maksud suara-suara itu”

Gadis berambut ikat kuda itu menghela napas. “Oke, tapi janji kalau ada apa-apa kamu langsung bilang ke aku”, ancamnya. “Iya”Kami berjalan menyusuri keelokan benteng. Hingga kami sadari, kami terpisah dari rombongan. Kami ada di sebuah ruangan minirama yang sepi. Ini adalah minirama yang terletak paling ujung dan menurutku begitu dingin. Berada sedikit lama di sana membuat perasaanku semakin tidak tenang. “Kita ketinggalan jauh deh. Mendingan kita keluar dari sini”, ajak Rani yang sedari tadi menyimak ke satu sudut minirama.

Aku tidak menolak dan langsung ikut pergi bersamanya. Namun, ketika kami baru beberapa langkah menjauh, aku merasakan kehadiran sosok beraroma wangi tepat di belakang kami. Ku lihat Rani mempercepat langkah kakinya dan hal itu membuatku sedikit terburu-buru. Rasa ingin tahu membuatku menoleh sesaat ke belakang. Mataku menyipit ketika melihat sosok wanita bule bergaun cantik mematung tepat di belakang kami. Dandanan khas tempo dulu membuatnya terlihat cantik, menarik sekaligus menakutkan.

Ia memandang kepergianku bersama Rani. Tatapannya seakan membiusku untuk berhenti. Kemudian aku merasa ingin mengobrol dengannya. Rani”, tegurku. Namun Rani justru menarik pergelangan tanganku seakan-akan menyeretku segera keluar dari minirama itu. Aku kembali menoleh dan mendapati wanita itu tersenyum. Sejenak kemudian ia menyibakkan roknya dan ku sadari wanita itu berkaki kuda. Ketika sudah berada di luar benteng, Rani berkata padaku bahwa dia melihat sosok noni Belanda di belakangku. Hal itu membuat Rani terus membelakangiku dengan memandang sudut minirama.

Senin, 02 Juli 2018

Cerpen Rock Balancing, Bukan Sekadar Hobi tapi Juga Terapi


Perjalanan Yogyakarta-Bantul sepanjang kurang lebih 20 kilometer dibawah terik matahari tidak menyurutkan antusiasme kami untuk berkenalan dengan satu komunitas unik. Berbekal google maps sebagai penunjuk jalan akhirnya sekitar pukul 14.30 kami sampai di tempat tujuan. Disambut dua orang anggota komunitas, mereka nampak terkejut dengan kedatangan kami, alis matanya bertaut dan air mukanya menunjukan kebingungan. Dikiranya kami tidak akan datang secepat ini, belum persiapan katanya. Tidak butuh waktu lama untuk akrab satu sama lain, mereka adalah Mas Abe dan Mas Gilang, anggota Komunitas Balancing Art Indonesia.

Balancing Art Indonesia merupakan sebuah komunitas yang kegiatannya berfokus pada seni keseimbangan objek. Mereka menyusun benda-benda secara seimbang dan alami tanpa menggunakan perekat. Batu menjadi objek yang paling umum digunakan, kegiatannya dinamakan rock balancing. Berdiri pada tahun 2013 di Yogyakarta kini anggotanya tersebar di seluruh daerah di Indonesia.
Penat selepas perjalanan telah hilang, kami beranjak menyusuri dan menyeberangi sungai Oya Imogiri. Sayang jembatan ikonik yang menghubungkan kedua sisi sungai rusak parah sehingga kami harus menggunakan perahu karet. Mas Abe dan Mas Gilang mengajak kami ke markas Komunitas Art Balancing, tepian sungai Oya yang kaya akan bebatuan. Sesampainya di markas mereka langsung mengajak untuk rock balancing.

Dengan khidmat Mas Abe menyusun batu demi batu secara vertikal. “Ini menyeimbangkan batu dengan style stacking, menumpuk,” jelasnya. Dilatarbelakangi suara arus sungai dan ramainya obrolan, ia tetap berkonsentrasi penuh pada batu-batu tersebut. Meninggalkan Mas Abe sejenak, di belakangnya ada Mas Gilang yang sedang mencari batu-batu pipih. Batu itu akan ia gunakan untuk rock balancing dengan style bridge.

Ia memulai dengan meletakan dua batu besar secara berhadapan sebagai pondasi. Lalu ruang diantara kedua batu besar itu diisi dengan susunan batu pipih yang sudah dikumpulkan. Susunan tersebut menghasilkan jembatan batu yang melengkung ke atas. Itulah mengapa style ini dinamakan bridge. Suasana menjadi ramai ketika susunan batu milik Mas Abe roboh, semua menyoraki. Kata mereka memang ini uniknya saat melakukan rock balancing beramai-ramai. “Kalau kita nyusun memang kayak orang bisu semua. Jadi waktu nyusun nanti kita diem-dieman ketika ada salah satu yang roboh nanti baru gerak semua,” kata Mas Gilang.

Selain menggunakan style stacking dan bridge mereka juga menggunakan style stone flower. Sesuai namanya batu-batu disusun menyerupai sebuah bunga, karena ini perpaduan dari beberapa style dasar jadi harus menguasai style dasar terlebih dahulu. Untuk pemula menyusun batu seperti ini tidaklah mudah. Kita harus mencari titik nol agar tercapai keseimbangan. Diperlukan kesabaran, fokus penuh, konsentrasi dan ketenangan dalam diri pembuat. Karena itu juga seni ini bisa dikatakan sebagai terapi atau meditasi.

Bagi para penderita tremor rock balancing menjadi terapi yang mudah, murah, dan menyenangkan. “Jadi elemen batu ini kan ada pori-porinya dan ada massanya. Ketika kita pegang energinya terasa, otot dan syaraf yang mati bisa dilatih. Melatih motorik,” terang Mas Gilang. Ia juga menambahkan pernah ada anak-anak yang bereprilaku tidak semestinya seperti mabuk-mabukan dan kenakalan lainnya diajak mengikuti rock balancing. Ini sebagai terapi untuk mengontrol emosi dan melatih ketenangannya. Saat ini perilaku negatif mereka sedikit demi sedikit berkurang.

Dilihat dari sudut pandang psikologi rock balancing dapat dikatakan sebagai metode anti aging. “Ketika belajar rock balancing ada rasa bahagia. Latihan fokus, latihan rasa, dan latihan intuisi menimbulkan rasa senang dan senang itu artinya menurunkan tingkat stres,” kata Pak Hisyam, psikolog yang juga mengikuti rock balancing. Menurutnya terapi ini cocok untuk orang-orang yang bermasalah dengan ketidakfokusan karena mengaktifkan syaraf motorik dan meningkatkan zat kebahagiaan.

Rock Balancing juga mengajarkan pada kesederhanaan, walaupun berada di atas suatu saat akan kembali ke titik nol juga. Ada filosofi rock balancing yang dibagikan Mas Abe sore itu, dengan ilustrasi ibu jari dan jari telunjuk yang membentuk huruf L ia menjelaskan. “Kita berada di titik nol (menunjuk persimpangan kedua jari), tiidak jatuh ke arah vertikal maupun horizontal. Garis vertikal ini kita dengan sang pencipta, kalau garis horizontal kita dengan ciptaanNya. Jadi semua kembali ke titik nol,” katanya. Rock Balancing tidak hanya bisa dinikmati sebagai seni atau dilakoni sebagai hobi. Namun lebih dari itu kegiatan ini membawa manfaat yang tidak kecil, dan itu sudah dibuktikan dengan komunitas ini.

Cerpen Jiwaku Terang di Malam Itu


Btari. Perempuan berusia 21 tahun itu mengetahui betul apa arti nama yang diberikan orang tuanya. Nama itu senantiasa membuatnya harus bersikap sama seperti arti dari namanya. Ya, Btari berarti perempuan yang seperti bidadari. Tak hanya parasnya yang diharapkan mengikuti paras ayu bidadari. Pasti lebih dari itu, setiap tingkah laku, tutur kata, dan hatinya juga diharapkan se-ayu bidadari. Menghabiskan malam seorang diri menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Meski pun dibilang anak rumahan, sesekali Btari memilih keluar sendirian. Me time. Itulah yang sedang dilakukan perempuan berkulit sawo matang dan bertubuh jenjang bernama Btari.

Setelah memutar otak menentukan tempat yang nyaman dan menyenangkan sampailah Btari di sebuah kedai kopi di Jalan Mataram. Di kedai kecil itu tersedia beberapa tempat duduk di dalam ruangan dan di luar ruangan. Dengan langkah kaki yang mantap Btari menuju ke tempat duduk di luar ruangan. Terdapat tiga meja kayu berderet yang masing-masing disertai dengan tiga kursi bundar disekelilingnya. Meja yang terletak di tengah sedang menanti pelanggan untuk diisi. Alunan lagu My One and Only Love memenuhi kedai kopi dengan sinar temaram itu. Nuansa coklat kehitaman mendominasi setiap sudut serta langit-langit ruangan dalam.

Diedarkan pandangannya ke buku menu yang ada di tangannya. Tak ada yang bisa dibolak-balik, karena hanya ada satu lembar kertas yang berisi beberapa sajian minuman dan makanan. Setelah menentukan pilihan dan memesan, tangan kecilnya membuka laptop bewarna biru yang diletakkan di hadapannya. Keramaian di Jalan Mataram tak membuat Btari terusik untuk sekadar memilih-milih lagu untuk dijadikan “teman” melewati malam ini. Lima lagu favoritnya telah tersusun di playlist dan siap untuk didengarkan berulang-ulang. Tak ada yang bisa dinikmati dari suasana malam di kedai kopi pinggir jalan itu. Tidak pemandangan, tidak pula udaranya. Semuanya sesak, semuanya padat. Hanya ada polusi, suara mesin motor dan mobil, suara riuh klakson motor, atau sekadar percakapan ringan di beberapa sudut kedai.

Menghela napas yang panjang, ditahan, dan dikeluarkan perlahan. Berkali-kali Btari melakukan adegan yang tampak seperti dalam latihan Yoga. Wajahnya memancarkan tanda-tanda tubuh yang mulai nyaman dan menyatu dengan keadaan sekelilingnya.
Setelah menyesuaikan diri, Btari membuka file materi kuliahnya yang menjadi alasan dirinya terduduk dan terjebak dalam keadaan ini. Namun, semua tak berjalan lama karena jiwanya lebih tertarik untuk membuka aplikasi Ms. Word dan mengetikkan syair-syair indah gubahan mantan orang nomor satu di negerinya –Susilo Bambang Yudhoyono.

Perlahan sang surya mulai tenggelam, di akhir senja di bukit itu.Lihat lambai nyiur di sana, senja indah berkilauan.Indah, indah alamku, teduh, teduh hidupku.Ketika rembulan muncul perlahan, menyinari tanah padang ilalang.Gemercik air jatuh di bebatuan, hidup dalam kedamaian.Indah, indah alamku. Teduh, teduh hidupku.Katakan ada bunga di hatimu. Katakan ada sinar di kalbumu.Jiwaku terang di malam itu.Tembok pertahanan Btari ternyata tak cukup kuat untuk mendengar kembali lagu-lagu yang mengingatkannya pada seseorang. Diedarkannya pandangan mata jernihnya ke jalanan yang terkadang menjadi lengang tak bersuara, sunyi, dan dingin.

“Apa yang dilakukan mereka?” Btari berkata lirih saat melihat anak lelaki di seberang jalan membawa kain kecil seperti yang biasa ia gunakan untuk membersihkan motornya. Pikirannya melayang membayangkan setiap pikiran orang-orang yang dilihatnya. Hobi Btari yang satu ini selalu bisa membawa Btari berucap syukur terhadap kisah hidupnya.

Di jalanan, di pasar tradisional, di masjid, di rumah sakit, di kuburan tidaklah sulit untuk menemukan mereka yang nasibnya kurang beruntung. Tak sedikit pula Btari sanksi pada kebahagiaan orang-orang kaya yang selalu menghamburkan uangnya di departement store, di hotel, di kafe, di kedai, di salon. Kalau saja tidak ada pelayan yang menariknya untuk berpijak lagi di bumi, mungkin kini Btari telah pergi jauh menghinggapi satu per satu kepala orang-orang yang sedang berjalan di seberang jalan.“Makasih, Mbak.” Btari tersenyum setelah minumannya datang.“Kurang kentang gorengnya ya. Ditunggu sebentar.” Pelayan itu pun berlalu meninggalkan Btari yang kembali menjejaki bumi tempatnya berdiri. Setelah lelah mengedarkan pandangannya, Btari kembali menatap tulisan yang ada di lembar kerja Ms. Word-nya tadi.

“Iya, benar... jiwaku indah di hari itu, di pagi itu, di siang itu, di sore itu. Namun, entahlah dengan malam itu...” Digantungkannya monolog lirih yang mengingatkan Btari pada seseorang. Fokus Btari terpecah. Matanya berkaca-kaca saat mendengar lantunan lagu dari earphone-nya. Jiwanya seolah terbang mengikuti bayang masa lalunya. Mengikuti seorang bintang hidup yang selalu memberi inspirasi bagi hidupnya.

Iya. Sekadar dari posisiku ini aku bisa melihatmu begitu sempurna, tanpa pernah kutahu segala yang engkau tangisi, yang membuat hatimu gundah, tersangkut pedih dan perih. Ya, aku tahu betapa cinta ini tumbuh secara tak wajar dalam kehidupanku. Tapi, apakah benar ada yang salah dalam cinta? Kalau kata Sujiwo Tejo di twitter sih gini... Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.. Lucu ya? Tapi memang benar begitu adanya, bukan? Terkadang hanya bisa tertawa kecil saat memikirkan perihal kuno itu. Perihal kuno yang senantiasa bisa menghasilkan uang bagi sekian banyak orang yang mendongengkannya kembali, mengemasnya dalam nada, atau film tentang indahnya dia, cinta.

Bukankah kisah cinta yang ada saat ini hanyalah pengulangan-pengulangan dari kisah cinta di masa lalu? Tapi mengapa masih saja banyak orang yang tertarik? Mungkin karena keindahan bahasa...
“Ah... cinta...” Btari menahan tawa sembari melihat keadaan sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang sadar terhadap celotehannya barusan. Pesanan kentang goreng pun kini sudah ada di samping minuman Btari. Btari terkekeh membaca setiap barisan kata yang baru saja ditulisnya. Earphone yang sedari tadi menyumbat gendang telinga Btari dengan lagu Jiwaku Terang di Malam Itu dan Bintang Hidupku mulai dilepas dan diletakkan di atas meja kayu berbentuk bundar.

Kalau bisa... dalam kehidupan ini, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku suka dengan warna hitam dan putih, aku suka hujan dengan bau khasnya, dan harus kuakui... aku jatuh cinta pada sosok Rahwana. Terkadang aku kasihan pada dia, tapi aku sadar bahwa dia tak butuh dikasihani. Bukankah cinta sejati itu milik Rahwana pada Sinta? Buktinya, Rahwana senantiasa mengagungkan Sinta tak pernah kasar pada Sinta. Sementara Rama yang seringkali disebut memiliki cinta yang sejati untuk Sinta malah mencurigai kesucian Sinta sekembalinya Sinta dari kerajaan Rahwana.Kebosanan kembali menghinggapi pemilik jemari lentik yang kini sedang menyeruput minumannya dilanjutkan dengan memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.

“Nggak bisa. Tetap aja nggak bisa! Kenapa sih harus tentang kamu terus...” Terdengar lirih suara Btari kembali menemukan dirinya terjebak dalam kisah cintanya sendiri. Siapa sangka Btari yang biasa merangkai kata demi kata tentang cinta dan seringkali dimintai petuah cinta teman-temannya malah terperangkap dalam kisah cintanya sendiri. Lembar kerja Ms. Word di laptop bewarna biru cerah itu perlahan kembali terisi kata-kata.

Betapa indahnya cinta Rahwana pada Sinta. Rahwana terus memuliakan Sinta hingga akhir hidupnya. Ya, mungkin dari sisi yang lain Rahwana salah karena telah menculik istri orang, tapi... ketulusan hati Rahwana membuatku tersentuh dan jatuh cinta padanya. Rahwana teralienasi karena bentuknya, hadirnya seperti tak diharapkan semesta, cintanya senantiasa dipertanyakan dan dianggap salah. Bukankah cinta itu tentang “apa” dan “siapa” seperti yang dikemukakan Derrida? Dan sepertinya memang benar goresan pena dalam buku Rahwana Putih yang berkisah,

Kedua telapak tangan Btari menangkup dan perlahan keduanya berdampingan untuk menutupi wajah yang sedari tadi menegang. Hati Btari lelah menutup-nutupi perasaan yang kian meruntuhkan pertahanan yang dibuatnya. Entah telah berapa ratus hari terlewatkan, Btari enggan untuk menghitung kembali hari demi hari yang telah berlalu. Semakin lekat kenangan tentang bulan Mei tahun lalu, semakin lekat Btari dengan sosok yang ingin sekali dilupakan atau sekadar ditinggalkan. Namun, semua takkan mungkin terjadi.

Bukankah dalam proses melupakan kita juga menghadirkan? Kini dia terpaku pada sebuah foto yang muncul di layar ponselnya. Seingatnya baru beberapa bulan yang lalu foto itu diadakan sekadar untuk mengingat seseorang yang sangat penting baginya. Terlihat potret dua orang yang berada di tempat berbeda sengaja dibingkai dalam satu kesatuan. Di bawahnya terdapat sebuah kalimat yang mungkin menggambarkan perasaan hatinya, “Sometimes, you forgive people simply because you still want them in your life”. Btari melihat sosoknya dalam foto yang diambil dua bulan lalu. Potret itu persis dengan keadaan hari ini, hanya saja berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Secangkir kopi yang senantiasa menemani Btari mengukir hari demi hari.

“Hey kamu... apa kabar? Lama ya aku nggak tanya kabarmu...” Btari tersenyum tipis karena menyadari dirinya sedang berdialog dengan angin, dengan alam, bukan sosok lelaki yang potretnya sedang diamati sedari tadi oleh Btari. Semua terasa menghambar. Tak seluruh benteng pertahanan yang dibuat hancur, buktinya Btari masih mampu tersenyum tipis saat melihat pasangan kekasih berangkulan dan tertawa di bagian dalam kedai.

Btari sudah cukup ahli untuk berpura-pura menutupi segenap luka yang telah dipendam selama satu setengah tahun. Semua atas kesalahannya yang selalu membangun mimpi bersama dengan sosok yang sangat mencintai musik klasik itu. Btari terlalu percaya pada perasaannya, hati kecilnya yang tak pernah berbohong. Menanti sosok lelaki itu.
Ternyata, tak semudah itu menjaga hati untuk seseorang nun jauh di sana. Tanpa sebuah kepastian, tanpa sebuah cerita. Hanya ada Btari seorang yang membuat janji untuk senantiasa mencintai sosok lelaki itu: apa adanya, sampai kapan pun. Suara merdu Afgan mengalun perlahan mengikuti nada-nada yang tercipta memenuhi gendang telinga Btari. Seluruh syair dan nada dalam lagu Kembali menyita ruang dan waktu Btari.

Mengapa semua harus terjadi seperti itu? Adakah tuturku yang tak berkenan dalam hatimu? Adakah diriku membuatmu tak nyaman? Mengapa tak pernah kau ucap, Mas? Hatiku hancur saat membaca ceritamu bersamanya. Tapi aku tahu kalau semua itu hanyalah kenangan di masa lalu, bukan? Ya, aku akan percaya padamu. Kamu akan kembali ke “rumah”mu. Sekali pun masa lalu dapat hadir di masa depan, masa lalu tetaplah berada di tempatnya jika engkau tak menariknya bersama rasamu. Seperti sekarang, saat aku memutuskan untuk menjadikanmu sebagai masa depanku dengan segenap rasaku... cerita masa laluku perlahan tak lagi mampu kureka, yang ada hanyalah tentang kamu. Tapi, kelak ketika kita bertemu lagi akan kah kamu menjadi seperti Rama? I don’t care with your ex-girl friend... I really don’t care with Aely, Dear...

Tak henti-hentinya sosok lelaki itu diperhatikan oleh Btari. Entah dari sisi yang mana Btari jatuh hati pada lelaki itu. Btari tak pernah mampu menjawabnya, yang ia tahu hanyalah: karena dia adalah lelaki yang dicintainya. Cinta itu memang aneh bukan? Tersakiti tetapi tetap tinggal, tetap menganggapnya sebagai bintang hidup. Memori otak dan perasaan Btari terus mencari-cari setiap syair yang dilantunkan pengamen yang kini bernyanyi di samping mejanya.
Meski tak seindah yang kau mau, tak sesempurna cinta yang semestinya.
Namun, aku mencintaimu... sungguh mencintaimu.

“Terimakasih, Mbak. Selamat malam, semoga malamnya menyenangkan...” Btari tersenyum tipis menanggapi kalimat dari remaja bersuara merdu yang sedari tadi menjajakan suara. Btari tak sepenuhnya menjejakkan kakinya ke bumi, kembali ia melayang bersama seluruh imajinasi dan kata “andai”. Semua menjadi indah lalu menyedihkan untuk diusaikan.“Kapan kamu ambil foto itu. Pasti udah lama banget.. ha-ah..” Tak berapa lama kemudian instrumen Claire de Lune yang menjadi original soundtrack di film Twilight membawa Btari dalam lamunan yang kian jauh. Kembali Btari tersenyum mengingat perbedaan dirinya dengan sosok lelaki yang dicintainya.

Twilight! Ya, foto itu diambil saat kamu nonton film itu... kok kamu suka ya, Mas?”
Btari menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan pilihan film lelaki yang dipertemukan dengannya bulan Mei tahun lalu itu. Namun, untuk Claire de Lune Btari setuju dengan pendapat pencinta musik klasik itu. Klasik, jazz, Mr. Big, John Mayer, lagu Everything (Michael Buble), lagu L.O.V.E (Nat King Cole), dan sederet lagu romantis menjadi penghubung keduanya. Entahlah, untuk selera film mereka berdua seperti terpisahkan. Film berjudul “The Sound of Music” film favorit Btari malah menjadi film favorit mama lelaki itu. Btari kembali tersenyum meski pun dalam kepedihan saat mengingat lelaki itu tak tahu sedang berada di mana dan bersama siapa.

Ya, sosok perempuan itu sedang melakukan hal yang sama seperti dalam potret yang kini sedang di pandangi. Menikmati kopi, tersenyum, mencintai potret lelaki di sebelahnya, dan beradu dalam perasaan kelu. Lalu, di mana sosok lelaki itu? Sosok yang senantiasa dirindukan dan didambakan kehadirannya. Apakah dia sedang melakukan hal yang sama seperti foto yang kini dilihat Btari? Mungkin sedang berada dalam acara premier film yang disukai. Btari hanya mengetahui perasaannya yang kian tak menentu: jarak mereka kian dekat, tetapi terasa sangat jauh dan kerinduan itu tak juga tersampaikan. Entahlah, mungkin tercecer terbawa oleh angin malam ini yang semakin gemar membuat Btari menggigil kecil.

Nostalgia yang tak berkawan itu pun harus segera diakhiri, karena sejatinya Btari mengerti sedikit tentang hakikat kehidupan seperti yang diajarkan Ki Ageng Surya Mentaram. Hidup itu sedikit senang, sedikit susah. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan bukan? Btari bersenandung lirih seraya berdoa diakhir lagu Malam Sunyi di Cipaganti.“Aku yang punya rindu, Tuhan yang punya waktu. Bila kupasrah diri, Tuhan pasti memberi. Angin... titip rinduku untuk dia... Mr. A. Dk.”

CERPEN SEPOTONG PRETZEL DI KERETA MUNICH – PARIS


Setelah menjelajahi kota Munich selama lima hari, saya bersiap-siap untuk hijrah ke kota berikutnya di Eropa. Paris, Perancis. Kota yang terkenal dengan Menara Eiffel ini memang bisa dibilang tempat impian hampir semua orang. Termasuk saya. Paris seolah menjadi validasi bagi mereka yang pernah atau akan liburan ke Eropa. Memang, tanpa mengunjungi kota romantis ini seolah liburan di Eropa terasa masih ada yang kurang.

Untuk pergi ke Paris saya memilih transportasi kereta. Jangan Anda bayangkan kereta kuno dengan cerobong asap, karena kereta yang saya gunakan merupakan kereta cepat, modern, dan canggih. Sebenarnya ada banyak pilihan transportasi menuju ke Paris, seperti bus dan pesawat terbang. Harga tiket bus dan pesawat terbang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kereta. Namun kereta menjadi pilihan yang sangat tepat. Bus membutuhkan waktu terlalu lama di perjalanan, itu bisa sangat melelahkan. Sementara pesawat terbang murah dan cepat, namun kita tidak dapat menikmati pemandangan pegunungan, perkotaan serta pedesaan antara Jerman dan Perancis. Sangat indah, sayang untuk dilewatkan. Percayalah, ini akan menjadi pengalaman tidak terlupakan!

Tiket kereta dibeli secara online di situs resmi Rail Europe, dengan harga 112 Euro atau setara dengan Rp. 1.736.000. Perjalanan memakan waktu selama 7 jam 36 menit, dengan sekali pergantian kereta di stasiun Stuttgart HBF. Semua jadwal kereta tepat waktu, jadi kita harus memastikan diri mengikuti jadwal sesuai yang tertera di tiket. 

Minggu pagi pukul 10.15 saya sudah tiba Munchen HBF, stasiun terbesar dan tersibuk di kota Munich yang menghubungkan Munich dengan kota-kota besar di Eropa. Tanpa banyak membuang waktu, saya langsung menuju platform yang tertulis di tiket. Kemudian masuk ke dalam kereta. Jika dibandingkan dengan kereta cepat di Jepang, Shinkansen, kereta yang saya gunakan lebih modern. Tujuan kota ditulis secara digital di masing-masing kursi, tepatnya di atas dekat tempat penyimpanan barang. Jadi, dalam satu kereta terdapat banyak tujuan kota berbeda, sesuai tujuan penumpang. Tujuan akhir kereta adalah Berlin HBF, yang melewati banyak stasiun kota. Kursi saya ditandai dengan tulisan Munchen – Stuttgart.

Kereta berjalan tepat sesuai jadwal. Kebetulan saya duduk di samping jendela, dengan begitu saya bisa puas menikmati pemandangan yang sangat indah. Sambil menyantap sepotong pretzel, roti khas Jerman, saya melihat pemandangan seolah sedang menonton sebuah pertunjukan. Pretzel masih tersisa setengah, kereta yang saya tumpangi telah mendekati stasiun Stuttgart HBF. Bergegas saya bersiap-siap, dan memasukan sisa roti ke dalam tas.

Setelah turun di Stuttgart HBF, saya langsung menuju kereta berikutnya yang telah tersedia. Nomor platform dan nomor kereta, semua sesuai dengan yang terdapat di tiket. Sangat memudahkan. Saya langsung naik dan mencari tempat duduk. 10 menit kemudian kereta berangkat. Kereta yang saya naiki kali ini lebih besar dan modern dari kereta sebelumnya. Kereta ini memiliki dua tingkat, saya duduk di tingkat atas, serta memiliki layar besar yang menandakan posisi stasiun-stasiun yang dilewati dan waktu tempuh perjalanan. Dan semuanya benar-benar sesuai dan tepat waktu!

Kembali saya kebagian kursi di samping jendela. Setelah kereta melaju sekitar satu jam, saya membuka tas dan kembali memakan sisa pretzel tadi. Kereta antara Stuttgart – Paris lebih banyak melewati banyak padang rumput yang luas, daripada perkotaan atau rumah-rumah pedesaan. Padang rumput yang sangat rapih, hijau, nyaris persis seperti wallpaper komputer milik Windows Microsoft. Pemandangan yang sama seperti yang pernah saya lihat di film-film, contohnya seperti film The Tourist yang dibintangi Angelina Jolie dan Johnny Depp. Terlalu indah untuk dilewatkan, itulah alasan kenapa saya tetap terjaga dan sedikitpun tidak tertidur.

Sekitar beberapa menit sebelum kereta berhenti di tempat tujuan, saya melihat Menara Eiffel dari kejauhan untuk pertama kalinya. Rasanya begitu “wah…” Rasanya seperti melihat mantan terindah setelah beberapa tahun tidak bertemu! Kereta sampai di stasiun Gare de l’Est Paris pukul 16.37. Cuaca Paris sore itu cerah, dan udaranya tidak sedingin di Munich yang bisa mencapai 1˚C. Rata-rata suhu Paris saat itu 14˚C. Terkejut. Itu adalah reaksi pertama saya menginjakan kaki di Paris. Sangat berbeda dengan Munich, dimana semuanya terlihat nyaman, bersih dan aman, Paris dari sudut Gare de l’Est dan Gare du Nord terasa sebaliknya.

Wilayah ini kotor, penuh dengan orang, dan “liar”. Mengingatkan saya pada kondisi wilayah tertentu di Jakarta. Sambil menyeret koper, saya berjalan menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Rupanya Paris selain dijejali banyak turis dari seluruh dunia, juga banyak didatangi oleh para pendatang yang mencoba menetap disana. Paris termasuk kota multikultural, jadi Anda akan menemukan banyak etnis disana. Mungkin Anda akan sedikit kaget, tapi itu tidak akan bertahan lama. Paris masih memiliki sisi romantis yang dapat dinikmati siang malam. Inilah yang akan membuat Anda lupa dengan sisi Paris yang liar. (Jelita)

Cerpen Kembalinya sebuah harapan


Kembalinya sebuah harapan - Kala senja itu, seorang gadis menunggu dengan penuh kecemasan,Apakah angan itu akan terwujud, atau hanya sebuah harapan tanpa kejelasan. Setelah ibunya tiada, kehidupan gadis itu mengalami perubahan. Rasa kehilangan sampai saat ini
masih dirasanya.

Malam itu ia masih bercanda tawa dengan ibunya. “Mama, jangan sakit ya.. jangan tinggalkan adek sama mbak ya”, kata gadis itu. Ibunya menjawab dengan anggukan kepala, dan senyum yang menyembunyikan kesakitan. “Ma, obatnya udah diminum ?”, tanya mbak. “ Udah mbak”, jawab mama lemah.

Suara telepon pun berbunyi dan waktu sudah menunjukkan jam 20.31. Ternyata pakde dari Banjarmasin telepon. Mama pun bercerita dan bercanda dengan pakde hingga 2 jam. Mama memutuskan untuk mengahiri telepon itu. “Dek, ambilkan mama minum”, kata ibu gadis itu. Gadis itu berjalan dengan mata yang sudah mengantuk menuju meja makan. Untuk mengambilkan air minum. Ketika sudah sampai kamar, di dapatinya ibunya sudah memejamkan mata.

 “Taruh situ dulu aja ya dek, mama ngantuk” kata ibunya lemah sambil menunjuk pada sebuah meja.
Malam itu sangat dingin Suara binatang-binatang malam mulai terdengar memecah keheningan,Gadis itu tak lelap tidur. Sebentar-sebentar bangun. Perasaan takut, cemas dan gelisah menyelimutinya. Di tengoknya ibunya. Di pandanginya wajah itu, tak terasa air matanya menetes semakin deras,Masuklah gadis itu ke kamarnya. Dilihatlah jam pada HPnya Menunjukkan pukul 01.30, keluarlah si gadis dari kamar untuk melaksanakan sholat malam.

Selesai sholat malam, gadis itu kekamar ibunya kembali. Di dapatinya ibunya habis dari kamar mandi, dan melihat gadis itu. “Dek, ambilkan mama minum yang manis dan panas ya”, kata ibunya. “iya ma,” jawab gadis itu. “Kok nggak panas, dek” kata ibunya. “Itu udah panas banget ma,” jawab gadis itu. Mbak, buatin mama minum” teriak ibunya. “Ini udah ma, panas banget ma” kata mbak sambil memberikan gelas itu kepada ibunya. “Dek, mama nggak kuat” teriak mama.

Akhirnya ibu gadis itu pingsan. Kakaknya pun teriak, seisi rumah berhamburan keluar kamar. Semua meneriaki ibu gadis itu, memanggil ambulan dan tetanggatetangga berdatangan karena teriakan sang kakak dari gadis itu. Setelah sampai di sebuah rumah sakit Dokter berkata, ibunya sudah tiada 10 menit sebelum sampai rumah sakit. Pecahlah tangis si gadis dan kakaknya serta keluarganya.  “Dek, mama udah nggak ada”, kata kakaknya. “Kita yatim piatu, dek” katanya lagi sambil memeluk sayang adeknya. “Tadi mama, dalam perjalanan baca doa setelah itu mama pingsan” kata kakaknya kepada tetangga yang ikut menyusul ke rumah sakit.

Si gadis mengamuk, di pecahnya pot-pot penghias rumah sakit itu. Syok, kaget, sedih dan bingung, rasa itu menyelimuti perasaan sang gadis. Tiba-tiba gelap, Tersadarlah gadis itu dari tidurnya yang lumayan panjang. Terdengarlah sayupsayup lantunan doa di telinganya.

Perpisahan yang dirasa gadis itu begitu cepat dan sosok yang di tunggunya pun tak juga datang. Ia hanya ingin memintakan maaf ibunya kepada sosok itu. Sosok itu, seorang laki-laki yang setia yang selalu membuat nyaman meski tak bersamanya. Laki-laki itu yang berjanji pada ibu sang gadis, akan meminangnya setelah mendapatkan pekerjaan. Ibu gadis itu juga sangat mengagumi laki-laki itu.
Hingga 100 hari kepergian ibu sang gadis, laki-laki itu baru menghubunginya kembali, dengan membawa kabar bahwa hubungannya dengan sang gadis tak dapat dilanjutkan. Orang tua laki-laki itu telah menjodohkan dengan perempuan yang layak dan memiliki orang tua yang setara dengan keluarganya.

4 tahun berlalu, semenjak perpisahan itu. Sang Gadis yang memutuskan untuk menyendiri. Akhirnya menemukan seorang laki-laki yang benar-benar menyayanginya. Pertemuan mereka sangat unik, berawal dari sebuah materi UAS. Tepat pukul 18.45 ada pesan notifikasi dari salah satu grup whatsapp,yang berisi pertanyaan kisi-kisi Uas dan gadis itupun merespon.

Namun dari respon itulah komunikasi sang gadis dengan laki-laki itu berlanjut dalam sebuah pertemuan untuk makan malam dan berbincang-bincang santai. Hingga malam pun semakin larut laki-laki itu pun bekata seakan-akan memecah keheningan malam itu ‘‘hari sudah semakin malam ,yuk kita pulang..’’sang gadis yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya pun menjawab ‘‘ iya ,yuk..’’.

Haripun silih berganti hingga tiba saat laki-laki itu mengenalkan sang gadis kepada kedua orangtuanya,akhirnya hati sang gadis yang layu bertahun-tahun itu kembali berbunga karena ketulusan cinta sang lelaki yang setia mendengarkan cerita dan keluh kesah sang gadis , sang gadis yang telah menemukan belahan jiwanya hidup berbahagia dalam suka dan duka bersama pasangannya menjalani manis pahitnya kehidupan berSdua

Kenapa hutan mangrove yang jadi pilihan?


Suasana liburan mulai menyapa ketika aku usai mengerjakan ujian semesterku. Aku berpikir untuk bereuni dengan teman-teman SMA-ku. Aku lantas menghubungi mereka lewat group chat yang kita punya, gayung bersambut beberapa jam kemudian mereka langsung mengiyakan. Reuni kali ini terasa berbeda karena kita bereuni sambil berlibur ke suatu destinasi wisata. Apalagi kita tidak pernah berlibur bersama setelah aku dan teman-temanku melanjutkan di perguruan tinggi yang berbeda satu sama lain. Maka dari itu kita mulai mencari pilihan destinasi yang akan dituju untuk liburan kali ini. Berbagai pilihan yang kita ajukan saat itu, mengingat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terkenal akan banyaknya pesona destinasi wisatanya yang tidak kalah dengan daerah lain yang ada di Indonesia.

Akhirnya, pilihan kita jatuh kepada kawasan ekowisata Hutan Mangrove Wana Tirta Kulonprogo. Sebuah kawasan ekowisata hutan mangrove yang terletak di Dusun Pasir Mendit, Jangkaran, Temon, Kulonprogo, Yogyakarta.

Kenapa hutan mangrove yang jadi pilihan?
Pertama, keinginan mencari suasana baru ketika berwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta karena biasanya tempat-tempat seperti Candi Prambanan, Malioboro, Pantai Parangtritis, dan Gunung Merapi menjadi pilihan wisatawan untuk berlibur.  Maka dari itu kita memilih Hutan Mangrove Wana Tirta sebagai tujuan untuk dikunjungi pada liburan kali ini.

Kedua, akses jalan yang mudah dan dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun empat. Letak dari Hutan Mangrove Wana Tirta yang berada di Kabupaten Kulonprogo dapat ditempuh melalui ringroad utara maupun selatan lalu dilanjutkan ke arah jalan wates menuju arah Pantai Congot yang notabene-nya jalan nasional  membuat kontur jalan yang baik dan tidak banyak tanjakan juga tikungan tajam sepanjang perjalanan sehingga dapat dilalui oleh berbagai macam kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Dua hari setelah kita memutuskan untuk berlibur ke Hutan Mangrove Wana Tirta, pada pagi harinya kita memulai perjalanan menuju tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Berbekal pengetahuan arah menuju pantai di Kulonprogo dan juga dengan petunjuk Google Maps kita memulai perjalanan hari itu. Jalanan yang begitu lengang sepanjang perjalanan membuat kita dapat berbincang satu sama lain, mendengarkan alunan lagu dari radio, dan juga mengabadikan setiap moment seru di mobil sepanjang perjalanan. 2,5 jam perjalanan kita lalui untuk sampai di Hutan Mangrove Wana Tirta. Perjalanan yang menyita banyak waktu di jalan, namun tak terasa karena sepanjang perjalanan disuguhkan oleh panorama indah dari persawahan, pegunungan , dan lingkungan dari Kabupaten Kulonprogo yang masih asri.

Akhirnya sampailah kita di Hutan Mangrove Wana Tirta. Cukup dengan membayar Rp 5.000,00 / orang untuk biaya retribusi dan juga Rp 5.000,00 untuk parkir kendaraan roda empat kita sudah bisa menikmati keindahan dari Hutan Mangrove Wana Tirta. Dari area parkir untuk sampai ke kawasan hutan mangrove dengan jalan kaki sekitar 5 menit.

Apa saja yang bisa kita lakukan disini?
Walking Track. Hutan Mangrove Wana Tirta menyediakan rute sekitar dua kilometer bagi  para pengunjung untuk menikmati keindahan ekosistem mangrove yang ada. Bosan? Tentu tidak karena sepanjang perjalanan kita melewati lorong, jembatan , dan juga beberapa spot- foto yang tentunya berlatar mangrove bagi wisatawan. Sepanjang perjalanan pengelola juga memberikan petunjuk arah untuk wisatawan sehingga tidak perlu khawatir jika tersesat.

Menyeberang Jembatan Gantung Api-Api. Jembatan yang menghubungkan area hutan mangrove yang terpisah oleh Sungai Bogowonto ini cocok bagi wisatawan dengan adrenaline tinggi. Ini karena setiap langkah kaki yang kita ayunkan membuat seluruh bagian pijakan dan pegangan dari jembatan tersebut ikut bergoyang tepat di atas aliran Sungai Bogowonto.

Berfoto dan menikmati keindahan panorama hutan mangrove. Keindahan wisata hutan magrove membuat kita serasa menyatu dengan alam, keindahan mangrove yang menciptakan lorong-lorong saat kita melewatinya membuat kita dapat berfoto dengan tema folk saat kita mengabadikannya. Ada pula berbagai spot-foto yang unik dan kreatif berlatar belakang mangrove yang disediakan oleh pengelola yang membuat kita tak henti-hentinya untuk mengabadikan moment saat berlibur di Hutan Mangrove Wana Tirta.