Senin, 02 Juli 2018

Cerpen Jiwaku Terang di Malam Itu


Btari. Perempuan berusia 21 tahun itu mengetahui betul apa arti nama yang diberikan orang tuanya. Nama itu senantiasa membuatnya harus bersikap sama seperti arti dari namanya. Ya, Btari berarti perempuan yang seperti bidadari. Tak hanya parasnya yang diharapkan mengikuti paras ayu bidadari. Pasti lebih dari itu, setiap tingkah laku, tutur kata, dan hatinya juga diharapkan se-ayu bidadari. Menghabiskan malam seorang diri menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Meski pun dibilang anak rumahan, sesekali Btari memilih keluar sendirian. Me time. Itulah yang sedang dilakukan perempuan berkulit sawo matang dan bertubuh jenjang bernama Btari.

Setelah memutar otak menentukan tempat yang nyaman dan menyenangkan sampailah Btari di sebuah kedai kopi di Jalan Mataram. Di kedai kecil itu tersedia beberapa tempat duduk di dalam ruangan dan di luar ruangan. Dengan langkah kaki yang mantap Btari menuju ke tempat duduk di luar ruangan. Terdapat tiga meja kayu berderet yang masing-masing disertai dengan tiga kursi bundar disekelilingnya. Meja yang terletak di tengah sedang menanti pelanggan untuk diisi. Alunan lagu My One and Only Love memenuhi kedai kopi dengan sinar temaram itu. Nuansa coklat kehitaman mendominasi setiap sudut serta langit-langit ruangan dalam.

Diedarkan pandangannya ke buku menu yang ada di tangannya. Tak ada yang bisa dibolak-balik, karena hanya ada satu lembar kertas yang berisi beberapa sajian minuman dan makanan. Setelah menentukan pilihan dan memesan, tangan kecilnya membuka laptop bewarna biru yang diletakkan di hadapannya. Keramaian di Jalan Mataram tak membuat Btari terusik untuk sekadar memilih-milih lagu untuk dijadikan “teman” melewati malam ini. Lima lagu favoritnya telah tersusun di playlist dan siap untuk didengarkan berulang-ulang. Tak ada yang bisa dinikmati dari suasana malam di kedai kopi pinggir jalan itu. Tidak pemandangan, tidak pula udaranya. Semuanya sesak, semuanya padat. Hanya ada polusi, suara mesin motor dan mobil, suara riuh klakson motor, atau sekadar percakapan ringan di beberapa sudut kedai.

Menghela napas yang panjang, ditahan, dan dikeluarkan perlahan. Berkali-kali Btari melakukan adegan yang tampak seperti dalam latihan Yoga. Wajahnya memancarkan tanda-tanda tubuh yang mulai nyaman dan menyatu dengan keadaan sekelilingnya.
Setelah menyesuaikan diri, Btari membuka file materi kuliahnya yang menjadi alasan dirinya terduduk dan terjebak dalam keadaan ini. Namun, semua tak berjalan lama karena jiwanya lebih tertarik untuk membuka aplikasi Ms. Word dan mengetikkan syair-syair indah gubahan mantan orang nomor satu di negerinya –Susilo Bambang Yudhoyono.

Perlahan sang surya mulai tenggelam, di akhir senja di bukit itu.Lihat lambai nyiur di sana, senja indah berkilauan.Indah, indah alamku, teduh, teduh hidupku.Ketika rembulan muncul perlahan, menyinari tanah padang ilalang.Gemercik air jatuh di bebatuan, hidup dalam kedamaian.Indah, indah alamku. Teduh, teduh hidupku.Katakan ada bunga di hatimu. Katakan ada sinar di kalbumu.Jiwaku terang di malam itu.Tembok pertahanan Btari ternyata tak cukup kuat untuk mendengar kembali lagu-lagu yang mengingatkannya pada seseorang. Diedarkannya pandangan mata jernihnya ke jalanan yang terkadang menjadi lengang tak bersuara, sunyi, dan dingin.

“Apa yang dilakukan mereka?” Btari berkata lirih saat melihat anak lelaki di seberang jalan membawa kain kecil seperti yang biasa ia gunakan untuk membersihkan motornya. Pikirannya melayang membayangkan setiap pikiran orang-orang yang dilihatnya. Hobi Btari yang satu ini selalu bisa membawa Btari berucap syukur terhadap kisah hidupnya.

Di jalanan, di pasar tradisional, di masjid, di rumah sakit, di kuburan tidaklah sulit untuk menemukan mereka yang nasibnya kurang beruntung. Tak sedikit pula Btari sanksi pada kebahagiaan orang-orang kaya yang selalu menghamburkan uangnya di departement store, di hotel, di kafe, di kedai, di salon. Kalau saja tidak ada pelayan yang menariknya untuk berpijak lagi di bumi, mungkin kini Btari telah pergi jauh menghinggapi satu per satu kepala orang-orang yang sedang berjalan di seberang jalan.“Makasih, Mbak.” Btari tersenyum setelah minumannya datang.“Kurang kentang gorengnya ya. Ditunggu sebentar.” Pelayan itu pun berlalu meninggalkan Btari yang kembali menjejaki bumi tempatnya berdiri. Setelah lelah mengedarkan pandangannya, Btari kembali menatap tulisan yang ada di lembar kerja Ms. Word-nya tadi.

“Iya, benar... jiwaku indah di hari itu, di pagi itu, di siang itu, di sore itu. Namun, entahlah dengan malam itu...” Digantungkannya monolog lirih yang mengingatkan Btari pada seseorang. Fokus Btari terpecah. Matanya berkaca-kaca saat mendengar lantunan lagu dari earphone-nya. Jiwanya seolah terbang mengikuti bayang masa lalunya. Mengikuti seorang bintang hidup yang selalu memberi inspirasi bagi hidupnya.

Iya. Sekadar dari posisiku ini aku bisa melihatmu begitu sempurna, tanpa pernah kutahu segala yang engkau tangisi, yang membuat hatimu gundah, tersangkut pedih dan perih. Ya, aku tahu betapa cinta ini tumbuh secara tak wajar dalam kehidupanku. Tapi, apakah benar ada yang salah dalam cinta? Kalau kata Sujiwo Tejo di twitter sih gini... Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.. Lucu ya? Tapi memang benar begitu adanya, bukan? Terkadang hanya bisa tertawa kecil saat memikirkan perihal kuno itu. Perihal kuno yang senantiasa bisa menghasilkan uang bagi sekian banyak orang yang mendongengkannya kembali, mengemasnya dalam nada, atau film tentang indahnya dia, cinta.

Bukankah kisah cinta yang ada saat ini hanyalah pengulangan-pengulangan dari kisah cinta di masa lalu? Tapi mengapa masih saja banyak orang yang tertarik? Mungkin karena keindahan bahasa...
“Ah... cinta...” Btari menahan tawa sembari melihat keadaan sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang sadar terhadap celotehannya barusan. Pesanan kentang goreng pun kini sudah ada di samping minuman Btari. Btari terkekeh membaca setiap barisan kata yang baru saja ditulisnya. Earphone yang sedari tadi menyumbat gendang telinga Btari dengan lagu Jiwaku Terang di Malam Itu dan Bintang Hidupku mulai dilepas dan diletakkan di atas meja kayu berbentuk bundar.

Kalau bisa... dalam kehidupan ini, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku suka dengan warna hitam dan putih, aku suka hujan dengan bau khasnya, dan harus kuakui... aku jatuh cinta pada sosok Rahwana. Terkadang aku kasihan pada dia, tapi aku sadar bahwa dia tak butuh dikasihani. Bukankah cinta sejati itu milik Rahwana pada Sinta? Buktinya, Rahwana senantiasa mengagungkan Sinta tak pernah kasar pada Sinta. Sementara Rama yang seringkali disebut memiliki cinta yang sejati untuk Sinta malah mencurigai kesucian Sinta sekembalinya Sinta dari kerajaan Rahwana.Kebosanan kembali menghinggapi pemilik jemari lentik yang kini sedang menyeruput minumannya dilanjutkan dengan memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.

“Nggak bisa. Tetap aja nggak bisa! Kenapa sih harus tentang kamu terus...” Terdengar lirih suara Btari kembali menemukan dirinya terjebak dalam kisah cintanya sendiri. Siapa sangka Btari yang biasa merangkai kata demi kata tentang cinta dan seringkali dimintai petuah cinta teman-temannya malah terperangkap dalam kisah cintanya sendiri. Lembar kerja Ms. Word di laptop bewarna biru cerah itu perlahan kembali terisi kata-kata.

Betapa indahnya cinta Rahwana pada Sinta. Rahwana terus memuliakan Sinta hingga akhir hidupnya. Ya, mungkin dari sisi yang lain Rahwana salah karena telah menculik istri orang, tapi... ketulusan hati Rahwana membuatku tersentuh dan jatuh cinta padanya. Rahwana teralienasi karena bentuknya, hadirnya seperti tak diharapkan semesta, cintanya senantiasa dipertanyakan dan dianggap salah. Bukankah cinta itu tentang “apa” dan “siapa” seperti yang dikemukakan Derrida? Dan sepertinya memang benar goresan pena dalam buku Rahwana Putih yang berkisah,

Kedua telapak tangan Btari menangkup dan perlahan keduanya berdampingan untuk menutupi wajah yang sedari tadi menegang. Hati Btari lelah menutup-nutupi perasaan yang kian meruntuhkan pertahanan yang dibuatnya. Entah telah berapa ratus hari terlewatkan, Btari enggan untuk menghitung kembali hari demi hari yang telah berlalu. Semakin lekat kenangan tentang bulan Mei tahun lalu, semakin lekat Btari dengan sosok yang ingin sekali dilupakan atau sekadar ditinggalkan. Namun, semua takkan mungkin terjadi.

Bukankah dalam proses melupakan kita juga menghadirkan? Kini dia terpaku pada sebuah foto yang muncul di layar ponselnya. Seingatnya baru beberapa bulan yang lalu foto itu diadakan sekadar untuk mengingat seseorang yang sangat penting baginya. Terlihat potret dua orang yang berada di tempat berbeda sengaja dibingkai dalam satu kesatuan. Di bawahnya terdapat sebuah kalimat yang mungkin menggambarkan perasaan hatinya, “Sometimes, you forgive people simply because you still want them in your life”. Btari melihat sosoknya dalam foto yang diambil dua bulan lalu. Potret itu persis dengan keadaan hari ini, hanya saja berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Secangkir kopi yang senantiasa menemani Btari mengukir hari demi hari.

“Hey kamu... apa kabar? Lama ya aku nggak tanya kabarmu...” Btari tersenyum tipis karena menyadari dirinya sedang berdialog dengan angin, dengan alam, bukan sosok lelaki yang potretnya sedang diamati sedari tadi oleh Btari. Semua terasa menghambar. Tak seluruh benteng pertahanan yang dibuat hancur, buktinya Btari masih mampu tersenyum tipis saat melihat pasangan kekasih berangkulan dan tertawa di bagian dalam kedai.

Btari sudah cukup ahli untuk berpura-pura menutupi segenap luka yang telah dipendam selama satu setengah tahun. Semua atas kesalahannya yang selalu membangun mimpi bersama dengan sosok yang sangat mencintai musik klasik itu. Btari terlalu percaya pada perasaannya, hati kecilnya yang tak pernah berbohong. Menanti sosok lelaki itu.
Ternyata, tak semudah itu menjaga hati untuk seseorang nun jauh di sana. Tanpa sebuah kepastian, tanpa sebuah cerita. Hanya ada Btari seorang yang membuat janji untuk senantiasa mencintai sosok lelaki itu: apa adanya, sampai kapan pun. Suara merdu Afgan mengalun perlahan mengikuti nada-nada yang tercipta memenuhi gendang telinga Btari. Seluruh syair dan nada dalam lagu Kembali menyita ruang dan waktu Btari.

Mengapa semua harus terjadi seperti itu? Adakah tuturku yang tak berkenan dalam hatimu? Adakah diriku membuatmu tak nyaman? Mengapa tak pernah kau ucap, Mas? Hatiku hancur saat membaca ceritamu bersamanya. Tapi aku tahu kalau semua itu hanyalah kenangan di masa lalu, bukan? Ya, aku akan percaya padamu. Kamu akan kembali ke “rumah”mu. Sekali pun masa lalu dapat hadir di masa depan, masa lalu tetaplah berada di tempatnya jika engkau tak menariknya bersama rasamu. Seperti sekarang, saat aku memutuskan untuk menjadikanmu sebagai masa depanku dengan segenap rasaku... cerita masa laluku perlahan tak lagi mampu kureka, yang ada hanyalah tentang kamu. Tapi, kelak ketika kita bertemu lagi akan kah kamu menjadi seperti Rama? I don’t care with your ex-girl friend... I really don’t care with Aely, Dear...

Tak henti-hentinya sosok lelaki itu diperhatikan oleh Btari. Entah dari sisi yang mana Btari jatuh hati pada lelaki itu. Btari tak pernah mampu menjawabnya, yang ia tahu hanyalah: karena dia adalah lelaki yang dicintainya. Cinta itu memang aneh bukan? Tersakiti tetapi tetap tinggal, tetap menganggapnya sebagai bintang hidup. Memori otak dan perasaan Btari terus mencari-cari setiap syair yang dilantunkan pengamen yang kini bernyanyi di samping mejanya.
Meski tak seindah yang kau mau, tak sesempurna cinta yang semestinya.
Namun, aku mencintaimu... sungguh mencintaimu.

“Terimakasih, Mbak. Selamat malam, semoga malamnya menyenangkan...” Btari tersenyum tipis menanggapi kalimat dari remaja bersuara merdu yang sedari tadi menjajakan suara. Btari tak sepenuhnya menjejakkan kakinya ke bumi, kembali ia melayang bersama seluruh imajinasi dan kata “andai”. Semua menjadi indah lalu menyedihkan untuk diusaikan.“Kapan kamu ambil foto itu. Pasti udah lama banget.. ha-ah..” Tak berapa lama kemudian instrumen Claire de Lune yang menjadi original soundtrack di film Twilight membawa Btari dalam lamunan yang kian jauh. Kembali Btari tersenyum mengingat perbedaan dirinya dengan sosok lelaki yang dicintainya.

Twilight! Ya, foto itu diambil saat kamu nonton film itu... kok kamu suka ya, Mas?”
Btari menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan pilihan film lelaki yang dipertemukan dengannya bulan Mei tahun lalu itu. Namun, untuk Claire de Lune Btari setuju dengan pendapat pencinta musik klasik itu. Klasik, jazz, Mr. Big, John Mayer, lagu Everything (Michael Buble), lagu L.O.V.E (Nat King Cole), dan sederet lagu romantis menjadi penghubung keduanya. Entahlah, untuk selera film mereka berdua seperti terpisahkan. Film berjudul “The Sound of Music” film favorit Btari malah menjadi film favorit mama lelaki itu. Btari kembali tersenyum meski pun dalam kepedihan saat mengingat lelaki itu tak tahu sedang berada di mana dan bersama siapa.

Ya, sosok perempuan itu sedang melakukan hal yang sama seperti dalam potret yang kini sedang di pandangi. Menikmati kopi, tersenyum, mencintai potret lelaki di sebelahnya, dan beradu dalam perasaan kelu. Lalu, di mana sosok lelaki itu? Sosok yang senantiasa dirindukan dan didambakan kehadirannya. Apakah dia sedang melakukan hal yang sama seperti foto yang kini dilihat Btari? Mungkin sedang berada dalam acara premier film yang disukai. Btari hanya mengetahui perasaannya yang kian tak menentu: jarak mereka kian dekat, tetapi terasa sangat jauh dan kerinduan itu tak juga tersampaikan. Entahlah, mungkin tercecer terbawa oleh angin malam ini yang semakin gemar membuat Btari menggigil kecil.

Nostalgia yang tak berkawan itu pun harus segera diakhiri, karena sejatinya Btari mengerti sedikit tentang hakikat kehidupan seperti yang diajarkan Ki Ageng Surya Mentaram. Hidup itu sedikit senang, sedikit susah. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan bukan? Btari bersenandung lirih seraya berdoa diakhir lagu Malam Sunyi di Cipaganti.“Aku yang punya rindu, Tuhan yang punya waktu. Bila kupasrah diri, Tuhan pasti memberi. Angin... titip rinduku untuk dia... Mr. A. Dk.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar