Senin, 02 Juli 2018

Cerpen Rock Balancing, Bukan Sekadar Hobi tapi Juga Terapi


Perjalanan Yogyakarta-Bantul sepanjang kurang lebih 20 kilometer dibawah terik matahari tidak menyurutkan antusiasme kami untuk berkenalan dengan satu komunitas unik. Berbekal google maps sebagai penunjuk jalan akhirnya sekitar pukul 14.30 kami sampai di tempat tujuan. Disambut dua orang anggota komunitas, mereka nampak terkejut dengan kedatangan kami, alis matanya bertaut dan air mukanya menunjukan kebingungan. Dikiranya kami tidak akan datang secepat ini, belum persiapan katanya. Tidak butuh waktu lama untuk akrab satu sama lain, mereka adalah Mas Abe dan Mas Gilang, anggota Komunitas Balancing Art Indonesia.

Balancing Art Indonesia merupakan sebuah komunitas yang kegiatannya berfokus pada seni keseimbangan objek. Mereka menyusun benda-benda secara seimbang dan alami tanpa menggunakan perekat. Batu menjadi objek yang paling umum digunakan, kegiatannya dinamakan rock balancing. Berdiri pada tahun 2013 di Yogyakarta kini anggotanya tersebar di seluruh daerah di Indonesia.
Penat selepas perjalanan telah hilang, kami beranjak menyusuri dan menyeberangi sungai Oya Imogiri. Sayang jembatan ikonik yang menghubungkan kedua sisi sungai rusak parah sehingga kami harus menggunakan perahu karet. Mas Abe dan Mas Gilang mengajak kami ke markas Komunitas Art Balancing, tepian sungai Oya yang kaya akan bebatuan. Sesampainya di markas mereka langsung mengajak untuk rock balancing.

Dengan khidmat Mas Abe menyusun batu demi batu secara vertikal. “Ini menyeimbangkan batu dengan style stacking, menumpuk,” jelasnya. Dilatarbelakangi suara arus sungai dan ramainya obrolan, ia tetap berkonsentrasi penuh pada batu-batu tersebut. Meninggalkan Mas Abe sejenak, di belakangnya ada Mas Gilang yang sedang mencari batu-batu pipih. Batu itu akan ia gunakan untuk rock balancing dengan style bridge.

Ia memulai dengan meletakan dua batu besar secara berhadapan sebagai pondasi. Lalu ruang diantara kedua batu besar itu diisi dengan susunan batu pipih yang sudah dikumpulkan. Susunan tersebut menghasilkan jembatan batu yang melengkung ke atas. Itulah mengapa style ini dinamakan bridge. Suasana menjadi ramai ketika susunan batu milik Mas Abe roboh, semua menyoraki. Kata mereka memang ini uniknya saat melakukan rock balancing beramai-ramai. “Kalau kita nyusun memang kayak orang bisu semua. Jadi waktu nyusun nanti kita diem-dieman ketika ada salah satu yang roboh nanti baru gerak semua,” kata Mas Gilang.

Selain menggunakan style stacking dan bridge mereka juga menggunakan style stone flower. Sesuai namanya batu-batu disusun menyerupai sebuah bunga, karena ini perpaduan dari beberapa style dasar jadi harus menguasai style dasar terlebih dahulu. Untuk pemula menyusun batu seperti ini tidaklah mudah. Kita harus mencari titik nol agar tercapai keseimbangan. Diperlukan kesabaran, fokus penuh, konsentrasi dan ketenangan dalam diri pembuat. Karena itu juga seni ini bisa dikatakan sebagai terapi atau meditasi.

Bagi para penderita tremor rock balancing menjadi terapi yang mudah, murah, dan menyenangkan. “Jadi elemen batu ini kan ada pori-porinya dan ada massanya. Ketika kita pegang energinya terasa, otot dan syaraf yang mati bisa dilatih. Melatih motorik,” terang Mas Gilang. Ia juga menambahkan pernah ada anak-anak yang bereprilaku tidak semestinya seperti mabuk-mabukan dan kenakalan lainnya diajak mengikuti rock balancing. Ini sebagai terapi untuk mengontrol emosi dan melatih ketenangannya. Saat ini perilaku negatif mereka sedikit demi sedikit berkurang.

Dilihat dari sudut pandang psikologi rock balancing dapat dikatakan sebagai metode anti aging. “Ketika belajar rock balancing ada rasa bahagia. Latihan fokus, latihan rasa, dan latihan intuisi menimbulkan rasa senang dan senang itu artinya menurunkan tingkat stres,” kata Pak Hisyam, psikolog yang juga mengikuti rock balancing. Menurutnya terapi ini cocok untuk orang-orang yang bermasalah dengan ketidakfokusan karena mengaktifkan syaraf motorik dan meningkatkan zat kebahagiaan.

Rock Balancing juga mengajarkan pada kesederhanaan, walaupun berada di atas suatu saat akan kembali ke titik nol juga. Ada filosofi rock balancing yang dibagikan Mas Abe sore itu, dengan ilustrasi ibu jari dan jari telunjuk yang membentuk huruf L ia menjelaskan. “Kita berada di titik nol (menunjuk persimpangan kedua jari), tiidak jatuh ke arah vertikal maupun horizontal. Garis vertikal ini kita dengan sang pencipta, kalau garis horizontal kita dengan ciptaanNya. Jadi semua kembali ke titik nol,” katanya. Rock Balancing tidak hanya bisa dinikmati sebagai seni atau dilakoni sebagai hobi. Namun lebih dari itu kegiatan ini membawa manfaat yang tidak kecil, dan itu sudah dibuktikan dengan komunitas ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar