Senin, 02 Juli 2018

CERPEN SEPOTONG PRETZEL DI KERETA MUNICH – PARIS


Setelah menjelajahi kota Munich selama lima hari, saya bersiap-siap untuk hijrah ke kota berikutnya di Eropa. Paris, Perancis. Kota yang terkenal dengan Menara Eiffel ini memang bisa dibilang tempat impian hampir semua orang. Termasuk saya. Paris seolah menjadi validasi bagi mereka yang pernah atau akan liburan ke Eropa. Memang, tanpa mengunjungi kota romantis ini seolah liburan di Eropa terasa masih ada yang kurang.

Untuk pergi ke Paris saya memilih transportasi kereta. Jangan Anda bayangkan kereta kuno dengan cerobong asap, karena kereta yang saya gunakan merupakan kereta cepat, modern, dan canggih. Sebenarnya ada banyak pilihan transportasi menuju ke Paris, seperti bus dan pesawat terbang. Harga tiket bus dan pesawat terbang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kereta. Namun kereta menjadi pilihan yang sangat tepat. Bus membutuhkan waktu terlalu lama di perjalanan, itu bisa sangat melelahkan. Sementara pesawat terbang murah dan cepat, namun kita tidak dapat menikmati pemandangan pegunungan, perkotaan serta pedesaan antara Jerman dan Perancis. Sangat indah, sayang untuk dilewatkan. Percayalah, ini akan menjadi pengalaman tidak terlupakan!

Tiket kereta dibeli secara online di situs resmi Rail Europe, dengan harga 112 Euro atau setara dengan Rp. 1.736.000. Perjalanan memakan waktu selama 7 jam 36 menit, dengan sekali pergantian kereta di stasiun Stuttgart HBF. Semua jadwal kereta tepat waktu, jadi kita harus memastikan diri mengikuti jadwal sesuai yang tertera di tiket. 

Minggu pagi pukul 10.15 saya sudah tiba Munchen HBF, stasiun terbesar dan tersibuk di kota Munich yang menghubungkan Munich dengan kota-kota besar di Eropa. Tanpa banyak membuang waktu, saya langsung menuju platform yang tertulis di tiket. Kemudian masuk ke dalam kereta. Jika dibandingkan dengan kereta cepat di Jepang, Shinkansen, kereta yang saya gunakan lebih modern. Tujuan kota ditulis secara digital di masing-masing kursi, tepatnya di atas dekat tempat penyimpanan barang. Jadi, dalam satu kereta terdapat banyak tujuan kota berbeda, sesuai tujuan penumpang. Tujuan akhir kereta adalah Berlin HBF, yang melewati banyak stasiun kota. Kursi saya ditandai dengan tulisan Munchen – Stuttgart.

Kereta berjalan tepat sesuai jadwal. Kebetulan saya duduk di samping jendela, dengan begitu saya bisa puas menikmati pemandangan yang sangat indah. Sambil menyantap sepotong pretzel, roti khas Jerman, saya melihat pemandangan seolah sedang menonton sebuah pertunjukan. Pretzel masih tersisa setengah, kereta yang saya tumpangi telah mendekati stasiun Stuttgart HBF. Bergegas saya bersiap-siap, dan memasukan sisa roti ke dalam tas.

Setelah turun di Stuttgart HBF, saya langsung menuju kereta berikutnya yang telah tersedia. Nomor platform dan nomor kereta, semua sesuai dengan yang terdapat di tiket. Sangat memudahkan. Saya langsung naik dan mencari tempat duduk. 10 menit kemudian kereta berangkat. Kereta yang saya naiki kali ini lebih besar dan modern dari kereta sebelumnya. Kereta ini memiliki dua tingkat, saya duduk di tingkat atas, serta memiliki layar besar yang menandakan posisi stasiun-stasiun yang dilewati dan waktu tempuh perjalanan. Dan semuanya benar-benar sesuai dan tepat waktu!

Kembali saya kebagian kursi di samping jendela. Setelah kereta melaju sekitar satu jam, saya membuka tas dan kembali memakan sisa pretzel tadi. Kereta antara Stuttgart – Paris lebih banyak melewati banyak padang rumput yang luas, daripada perkotaan atau rumah-rumah pedesaan. Padang rumput yang sangat rapih, hijau, nyaris persis seperti wallpaper komputer milik Windows Microsoft. Pemandangan yang sama seperti yang pernah saya lihat di film-film, contohnya seperti film The Tourist yang dibintangi Angelina Jolie dan Johnny Depp. Terlalu indah untuk dilewatkan, itulah alasan kenapa saya tetap terjaga dan sedikitpun tidak tertidur.

Sekitar beberapa menit sebelum kereta berhenti di tempat tujuan, saya melihat Menara Eiffel dari kejauhan untuk pertama kalinya. Rasanya begitu “wah…” Rasanya seperti melihat mantan terindah setelah beberapa tahun tidak bertemu! Kereta sampai di stasiun Gare de l’Est Paris pukul 16.37. Cuaca Paris sore itu cerah, dan udaranya tidak sedingin di Munich yang bisa mencapai 1˚C. Rata-rata suhu Paris saat itu 14˚C. Terkejut. Itu adalah reaksi pertama saya menginjakan kaki di Paris. Sangat berbeda dengan Munich, dimana semuanya terlihat nyaman, bersih dan aman, Paris dari sudut Gare de l’Est dan Gare du Nord terasa sebaliknya.

Wilayah ini kotor, penuh dengan orang, dan “liar”. Mengingatkan saya pada kondisi wilayah tertentu di Jakarta. Sambil menyeret koper, saya berjalan menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Rupanya Paris selain dijejali banyak turis dari seluruh dunia, juga banyak didatangi oleh para pendatang yang mencoba menetap disana. Paris termasuk kota multikultural, jadi Anda akan menemukan banyak etnis disana. Mungkin Anda akan sedikit kaget, tapi itu tidak akan bertahan lama. Paris masih memiliki sisi romantis yang dapat dinikmati siang malam. Inilah yang akan membuat Anda lupa dengan sisi Paris yang liar. (Jelita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar