Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2018

Sebuah perjalanan pulang kampung


Alunan instrumen Für Elise menemani perjalananku ke salah satu objek wisata di Jogja. Sejak lama aku menyukai instrumen ciptaan Ludwig van Beethoven ini. Ketika aku mendengarnya, aku merasa seakan-akan berada di tengah lantai dansa, menjadi sorotan lampu terang di antara kegelapan. Kemudian meliuk-liuk, menjadi tontonan ratusan pasang mata yang tidak dapat ku lihat balik. Bagiku instrumen ini begitu indah, membius dan penuh misteri.Namaku Ika dan merupakan salah satu siswa SMA Widya Yahya, sebuah sekolah yang ada di ujung selatan Sumatera. Saat ini aku dan teman-teman sedang melakukan study tour ke Jogja.

Setelah mengunjungi Candi Borobudur, agenda lain hari ini adalah mengunjungi sebuah objek wisata sejarah yang terletak di ujung Malioboro. Objek wisata sejarah itu adalah Benteng Vredeburg. Jarum jam tangan bergelinding tepat ke angka tiga ketika kami serombongan sampai di tempat itu. Aku melepas headset dan ikut keluar dari bus. Bersama Rani, aku berjalan mengikuti guru pendamping serta teman-temanku lainnya, yang sama – sama  mengenakan seragam sekolah. Ini adalah kali pertama ku saksikan secara langsung keelokan bangunan peninggalan Belanda satu ini. Bangunan ini dikelilingi parit yang cukup dalam.

Di mulut benteng juga terdapat sebuah jembatan penghubung, yang konon katanya dulu merupakan jembatan gantung. Beberapa teman-temanku asyik mengabadikan momen di depan bangunan bertuliskan Vredeburg. Sementara yang lain antri memasuki benteng. Sejenak kemudian aku merasakan nyeri kepala yang sangat. Kepalaku berdenyut-denyut. Rani menyadari perubahanku. Air mukanya was-was. Rani adalah sahabatku sejak kecil dan dia tahu kenapa aku bisa begini tiap berada di tempat baru. Aku mulai merasa tidak tenang. “Ka, kamu enggak apa-apa kan ?”, tanyanya.Aku mengelap keringat yang mengembun di dahi. “Aku harap”“Kalau kamu enggak mau masuk ke dalam, aku temenin deh di sini”, ujarnya. Aku menggeleng. “Mungkin mereka cuma mau menyapaku aja, Ran”

Rani mengangguk. Kami berjalan beriringan, mengikuti anak-anak lain memasuki benteng. Kata ibuku, aku adalah anak istimewa. Aku adalah anak nila yang biasa orang tafsirkan sebagai anak indigo. Tetapi bagi sebagian orang aku adalah anak yang aneh. Seringkali aku melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lainnya dan bahkan aku biasa berinteraksi dengan mereka. Di sekolah aku sering bicara dengan Kak Galang. Dia adalah siswa SMA Widya Yahya yang meninggal karena kecelakaan, tepat sehari sebelum ia dinobatkan sebagai juara olimpiade komputer tingkat SMA. Jujur, aku jarang sekali mempunyai teman dari dunia nyata dan justru lebih banyak mempunyai teman dari dunia lain.

Teman-teman sekolahku merasa ngeri untuk berteman denganku. Mereka melabeliku sebagai anak yang aneh, anak yang abnormal dan anak yang eksentrik. Selama ini yang setia berteman denganku hanya Rani. Meski seringkali menghadapi hal-hal di luar nalar manusia normal, Rani tetap mau berteman akrab denganku. Kadang aku merasa kasihan padanya yang ikut terseret momen – momen aneh ketika ada di dekatku. Dulu, ketika kami berdua main ke suatu tempat, aku melihat dia terus diikuti oleh sosok tak kasat mata dan itu membuatnya sampai jatuh sakit. Beruntung ia bisa disembuhkan oleh kerabatnya yang memang paham akan hal – hal semacam itu. Sejak saat itu Rani dibentengi oleh kerabatnya dan yang bisa ku lihat, tubuh Rani selalu diliputi cahaya biru.

Jika orang mengamati bola mataku lekat-lekat, maka ia akan menemukan ukuran pupil mataku yang jauh lebih besar dari orang normal lainnya. Seakan-akan hanya memiliki ruang putih yang sempit. Aku memiliki ujung telinga yang sedikit runcing dan itu berbeda dari orang lainnya. Ya, aku mungkin memang cukup aneh bagi mereka tetapi aku yakin bahwa ini bukanlah aib. Aku adalah anak yang istimewa. Tidak semua orang bisa sepertiku. Ketika memasuki bagian dalam benteng, tepat berada di dekat patung pejuang Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, aku mulai merasakan banyak pasang mata yang menyaksikan kedatangan kami serombongan.

Mereka, pasang mata yang tidak terlihat secara kasat mata. Sayup-sayup ku dengar rintihan dan jeritan. Aku menelisik ke sekeliling, melihat yang lain terlihat biasa saja dan asyik dengan keseruan mereka. Aku yakin tidak ada selain aku yang bisa mendengarnya. Semakin aku memasuki benteng, sejuta suara seakan menelisik masuk menembus lubang telingaku. Mereka mengeluh, mengerang dan meratap. Tetapi pendengaranku jauh lebih banyak menangkap suara mereka dalam bahasa yang tidak ku kenal.“Ka, kamu serius enggak apa-apa ?”, selidik Rani ketika menyadari aku terus-terusan bersikap ganjil.

Iya, Ran. Aku enggak apa-apa kok”, ujarku lagi. “Enggak usah bohong deh. Aku kenal kamu udah lama”, ia berada di depanku, mengerutkan dahi seolah memaksaku untuk jujur. “Hm…aku cuma denger suara-suara aja”“Suara-suara gimana ?”, ia menyilangkan tangan di depan dada, nampak seperti seorang bos yang sedang memarahi anak buahnya. “Suara rintihan, suara ketakutan, suara kesedihan…”, ujarku seraya masih mendengarkan suara-suara itu. Kemudian bergidik, merinding. “Kalau begitu kita keluar aja”, ia menarik pergelangan tanganku dan hendak membawaku keluar. Seketika aku menepisnya. “Enggak usah, Ran. Aku enggak apa-apa. Serius ! Justru aku malah penasaran sama apa maksud suara-suara itu”

Gadis berambut ikat kuda itu menghela napas. “Oke, tapi janji kalau ada apa-apa kamu langsung bilang ke aku”, ancamnya. “Iya”Kami berjalan menyusuri keelokan benteng. Hingga kami sadari, kami terpisah dari rombongan. Kami ada di sebuah ruangan minirama yang sepi. Ini adalah minirama yang terletak paling ujung dan menurutku begitu dingin. Berada sedikit lama di sana membuat perasaanku semakin tidak tenang. “Kita ketinggalan jauh deh. Mendingan kita keluar dari sini”, ajak Rani yang sedari tadi menyimak ke satu sudut minirama.

Aku tidak menolak dan langsung ikut pergi bersamanya. Namun, ketika kami baru beberapa langkah menjauh, aku merasakan kehadiran sosok beraroma wangi tepat di belakang kami. Ku lihat Rani mempercepat langkah kakinya dan hal itu membuatku sedikit terburu-buru. Rasa ingin tahu membuatku menoleh sesaat ke belakang. Mataku menyipit ketika melihat sosok wanita bule bergaun cantik mematung tepat di belakang kami. Dandanan khas tempo dulu membuatnya terlihat cantik, menarik sekaligus menakutkan.

Ia memandang kepergianku bersama Rani. Tatapannya seakan membiusku untuk berhenti. Kemudian aku merasa ingin mengobrol dengannya. Rani”, tegurku. Namun Rani justru menarik pergelangan tanganku seakan-akan menyeretku segera keluar dari minirama itu. Aku kembali menoleh dan mendapati wanita itu tersenyum. Sejenak kemudian ia menyibakkan roknya dan ku sadari wanita itu berkaki kuda. Ketika sudah berada di luar benteng, Rani berkata padaku bahwa dia melihat sosok noni Belanda di belakangku. Hal itu membuat Rani terus membelakangiku dengan memandang sudut minirama.